“Kalian nanti masuk ke breakout rooms terus kenalan sama temen satu kelompoknya. Sebutkan nama, asal, tempat dinasnya di mana, status, dan quote!”
Begitulah kata Pak Syamsuddin, pemateri kegiatan latsar kami waktu itu. Jujur, saya bukan tipikal orang yang lihai merangkai kata-kata. Jarang sekali saya membuat kata-kata indah. Seandainya ada kreator konten datang ke saya menawarkan selembar duit biru atau duit merah tapi harus bikin kata-kata hari ini, saya langsung sambar yang biru. Meskipun begitu, saya ingin memberikan kesan yang baik pada kawan-kawan saya.
Saya punya waktu agak lama untuk memikirkan kutipan yang pas karena nama saya diawali dengan huruf “S”, nama dengan urutan terakhir di kelompok itu. Kawan-kawan saya menyebutkan kutipan-kutipan yang beraneka ragam mulai dari ayat kitab suci hingga quote pada umumnya. Menjelang tiba giliran berkenalan, tiba-tiba sebuah kutipan yang unik terlintas di benak saya:
“Berhenshin-henshin dahulu, bertatakae kemudian.”
Sebenarnya, kata-kata ini tidak muncul begitu saja, dia muncul karena suatu kebiasaan. Sejak pandemi COVID-19 melanda, saya sering menghabiskan waktu untuk menonton serial Kamen Rider era Heisei. Apalagi saat menonton Kamen Rider Ryuki, kata “henshin” dan “tatakae” semakin masif saya dengarkan. Pada saat itu, saya iseng mengambil peribahasa umum: “Berakit-rakit dahulu, berenang-renang kemudian” dan membuat plesetannya.
Henshin merupakan proses transformasi yang dialami setiap kamen rider. Dari yang tadinya seorang manusia biasa, kini berubah menjadi pahlawan yang lebih tangguh dan kuat sehingga dapat melawan musuhnya. Di dalam serial kamen rider, jika seorang manusia kehilangan kemampuan berubah, maka manusia itu menjadi sosok yang lemah dan mudah dikalahkan oleh musuh.
Seorang manusia harus berubah dulu agar bisa lebih kuat menghadapi musuhnya.
Coba sekarang kita beralih pada peribahasa umum “Berakit-rakit dahulu, berenang-renang kemudian.” Dalam peribahasa ini terkandung makna bahwa manusia dapat merasakan senang setelah mengalami sakit/penderitaan. Namun, jika kita ambil hal yang menyenangkan secara harfiah, maka peribahasa klasik ini tidak akan relevan lagi dalam kehidupan kita. Ambil contoh dosen. Setiap semester harus membuat RPS, menyusun modul untuk pembelajaran satu semester, menyusun rencana penilaian, mengadakan pengambilan nilai akhir, dan diakhiri dengan evaluasi ketercapaian mata kuliah. Setelah mata kuliah selesai dievaluasi ketercapaiannya, apa yang dilakukan selanjutnya? Tentu semester baru menanti dan dosen harus mengulang proses tersebut dari awal untuk mata kuliah lain.
Lantas, kapan kesenangan tersebut diraih?
Makna “bersenang-senang kemudian” tidak bisa ditafsirkan secara harfiah. Kesenangan yang didapat bisa berupa ketercapaian tujuan mata kuliah atau hasil proyek mahasiswa yang melampaui standar yang kita terapkan. Bahkan sesederhana mengetahui materi yang kita ajarkan dapat dipahami oleh mahasiswa juga merupakan kebahagiaan. Dengan kata lain, kebahagiaan di sini konteksnya adalah menemukan kebahagiaan saat menjalani tugas yang sudah kita rencanakan sebelumnya. Sesederhana Godai Yusuke yang berjuang hanya untuk melihat senyum orang lain. Maka, perjuangan kita tidaklah mungkin bisa menyenangkan apabila kita sendiri tidak bisa berubah menjadi versi terbaik kita setiap hari, konsisten melakukan perbuatan baik, dan meninggalkan kebiasaan buruk.
Oleh karena itu, “berhenshin-henshin dahulu, bertatakae kemudian” akan selamanya menjadi motto saya.
Leave a comment