Menerka Kawan Ødegaard Musim Depan

Bayangkan Anda duduk di sebuah ruangan kerja, menghadapi layar komputer jinjing yang menyala menampilkan berbagai rupa data dan ditemani secangkir kopi. Anda asyik mengolah data, menuliskan sintaks kueri, serta menganalisa data tersebut; tidak ada yang bisa mengalihkan perhatian Anda, termasuk hamparan lapangan hijau yang luas dengan cahaya cerah dan hangat khas musim panas pertengahan bulan Juni yang bisa Anda saksikan dari jendela raksasa di salah satu sisi ruangan. Anda dapat membayangkannya? Selamat, Anda telah berangan-angan menjadi analis data sekaligus asisten Arteta untuk urusan mencari kandidat pemain yang diinginkannya. Itulah yang saya bayangkan saat menulis artikel ini.

Mengapa, Mengapa, dan Mengapa?
Seperti biasa, ritual awal yang harus saya lakukan adalah mencari masalah. Alih-alih memukuli orang, saya lebih suka metode “5 Whys” untuk mencari persoalan, dimulai dari menanyakan mengapa performa Arsenal di akhir musim menurun. Jawabannya bisa beragam, mulai dari skuad yang terlalu muda, kelelahan, mental yang kurang siap pada tekanan dan lain-lain. Jika ditanya lagi mengapa masalah tersebut muncul, jawabannya adalah karena Arteta hanya memiliki sedikit pakem kombinasi pemain dan jarang bereksperimen pada komposisi pemain tertentu. Kurangnya variasi racikan strategi kemungkinan disebabkan oleh ketimpangan kemampuan antar pemain. Baru sampai why ketiga, kita sudah menyimpulkan bahwa persoalannya adalah kedalaman skuad.

Nama PemainPosisiUsiaMenit Bermain90s
Martin ØdegaardMF233127 menit34.7
Granit XhakaMF292993 menit33.3
Thomas ParteyMF292483 menit27.6
JorginhoMF30855 menit9.5
Fabio VieiraMF, FW22514 menit5.7
Albert Sambi LokongaMF22198 menit2.2
Emile Smith RoweMF, FW22172 menit1.9
Mohammed ElnenyMF30113 menit1.3
MarquinhosMF191 menit0
Menit bermain gelandang Arsenal selama Premier League musim 2022/2023. (Sumber: FBRef.com)


Di musim lalu, Arteta lebih mempercayakan lini tengah pada trio Ødegaard – Xhaka – Partey. Jorginho yang baru datang pada bursa transfer Januari 2023 sempat mengemban tugas Partey, itu pun karena Partey cedera. Dari kelima gelandang yang memiliki waktu bermain lebih sedikit dari Jorginho, praktis hanya Fabio Vieiralah pilihan paling fit di bangku cadangan karena cedera yang melanda ESR dan Elneny serta Lokonga dan Marquinhos yang harus “disekolahkan” untuk menambah jam terbang.

Peta performa gelandang inti Arsenal dibanding Manchester City untuk aspek menyerang (kiri) dan aspek bertahan (kanan).


Menjadi opsi andalan Arteta di lini tengah bukan berarti performa mereka selalu sempurna di atas rumput hijau. Dibandingkan sang jawara, seluruh aspek menyerang dan bertahan trio gelandang Arsenal tersebut masih butuh lebih banyak pengembangan. Dilansir The Analyst, anak asuh Arteta lebih menyukai menjaga formasi pressing dan sabar menunggu momen yang pas untuk melakukan pressing. Meskipun terlihat cukup efektif, namun ketika salah satu punggawa absen, strategi tersebut sulit untuk berjalan mulus.

Untuk aspek menyerang, Arsenal lebih menyukai gelandang kreatif yang mampu membuat peluang dan memberikan umpan progresif. Namun, pada diagram di atas, Arsenal di musim mendatang perlu gelandang yang tidak hanya membuka ruang dan menerima umpan namun juga memiliki keberanian untuk melakukan dribbling progresif selain aktif berkontribusi dalam memperbesar peluang terciptanya gol.

Mari Mengolah Data!
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mencoba mengolah data dari FBRef. Saya menggunakan data Standard Stats untuk melihat aspek menyerang dan Defensive Action untuk atribut bertahan. Dari data tersebut saya hanya membutuhkan data gelandang EPL yang telah bermain lebih dari 1.000 menit dan didapatkan 127 data pemain.

Sebagai parameter pertahanan, saya mengambil jumlah tekel, challenge yang gagal, blok, intersep, sapuan, dan kesalahan berujung gol untuk lawan. Sementara untuk aspek menyerang, saya membutuhkan tindakan progresif seperti passing, dribble, dan penerimaan passing progresif, serta jumlah gol dan asis serta nilai ekspektasi gol dan asis. Untuk gol, tentu saja penalti bisa kita abaikan.

Atribut-atribut tersebut harus dikali dengan bobot, sehingga mudah untuk dilakukan pengurutan. Dengan asumsi semua pemain harus menghadapi musuh yang sama kecuali timnya sendiri, semua bobot bisa dianggap bernilai 1. Sehingga, dipakailah koefisien varian sebagai bobot. Jika koefisien ini bernilai kecil, berarti dapat diasumsikan atribut satu pemain dengan pemain lainnya tidak jauh berbeda.

Data gelandang EPL yang belum diolah


Atribut tiap pemain yang sudah dikalikan dengan bobotnya lalu dinilai dari 0-100, lalu diurutkan berdasarkan besaran nilai tersebut. Kemudian, diakumulasikan menjadi Defensive Point dan Attacking Point. Karena yang kita bahas adalah Arsenal, maka atribut usia dan menit bermain juga dicari bobotnya. Semakin muda usianya, maka semakin tinggi peringkatnya. Semakin lama menit bermainnya, maka dapat disimpulkan pemain tersebut memiliki stamina yang optimal. Kemudian, nilai usia, menit bermain, poin aspek menyerang, dan aspek bertahan dijumlahkan untuk mencari gelandang yang paling ideal.

Siapa yang Akan Datang?

Diagram nilai gelandang bertahan di EPL


Mari kita cari dulu siapa saja gelandang bertahan di EPL. Dari data tersebut, pilih gelandang dengan atribut defensive lebih tinggi dibanding aspek menyerangnya. Jika Anda mengikuti rumor transfer, apalagi mengikuti akun media sosial Fabrizio Romano atau David Ornstein, lalu Anda melihat grafik di atas, Anda akan memahami mengapa Arteta begitu ngotot menginginkan Declan Rice. Sempat melirik Caicedo menjelang akhir musim 2022/2023, namun pada akhirnya mundur dan memberikan jalan seluas-luasnya untuk Chelsea.

Declan Rice boleh jadi berada pada pilihan kedua, namun itu karena usianya lebih tua daripada Caicedo. Untuk stamina dan kemampuan bertahan, Rice unggul telak. Selain itu, statusnya sebagai pemain asli Inggris sekaligus kapten West Ham United, memberikan keunggulan tersendiri. Daily Mail bahkan mengklaim Rice bisa jadi diproyeksikan untuk menjadi kapten masa depan Arsenal.

Sementara itu, Romeo Lavia yang juga menjadi target Arsenal di musim ini menduduki peringkat ke-12 sebagai gelandang bertahan yang paling cocok di sistem Arsenal. Kemampuannya memang jauh di bawah Rice dan Caicedo, namun di usianya yang baru 19 tahun, Lavia kemungkinan masih bisa berkembang lebih jauh lagi di bawah didikan Mikel Arteta.

Diagram nilai gelandang sentral dan gelandang serang di EPL


Untuk gelandang sentral, tentu pada graf di atas, saya tampilkan semua gelandang yang lebih berkarakter menyerang dibanding bertahan. Kai Havertz, yang kepindahannya ke Arsenal telah dikonfirmasi oleh Fabrizio Romano dengan “here we go”nya, berada di posisi ketiga setelah Olise dan Joe Willock. Meminang Havertz dengan mahar senilai kurang lebih 65 juta Poundsterling jauh labih realistis dibanding memulangkan Joe Wilock atau mendekati Olise.



Dilansir oleh Transfermarkt, Havertz adalah gelandang serba bisa yang mampu ditempatkan sebagai gelandang serang, sayap kanan, atau bahkan menjadi striker. Mengenai kemampuan menyerangnya, bahkan Thierry Henry memuji gaya bermain Havertz yang dinilai mirip dengan Robin van Persie, dengan keunggulan di kaki kiri serta tubuh tinggi yang lihai memanfaatkan bola atas. Keunggulan tersebut tidak dimiliki oleh Olise maupun Willock. Menarik untuk dinanti kiprah Havertz bersama Meriam London musim depan.

Apa yang Terjadi di Musim Depan?
Mari kita bayangkan apabila Caicedo, Rice, Havertz, dan Lavia berhasil didatangkan Arsenal di bursa transfer kali ini. Mereka semua bekerja sama dengan Ødegaard, sementara Granit Xhaka kembali ke Liga Jerman dan Thomas Partey merumput bersama Juventus (atau mungkin ke liga Arab?). Jorginho? Mungkin akan tetap bertahan, namun perannya lebih dibutuhkan sebagai pemimpin dan penyuntik dukungan moral di ruang ganti. Lalu, kita bandingkan prediksi performa mereka dengan kombinasi trio Ødegaard – Xhaka – Partey.

Peta performa gelandang inti Arsenal sekarang dibanding dengan Arsenal di masa mendatang untuk aspek menyerang (kiri) dan aspek bertahan (kanan).



Terlihat sangat jelas bahwa kombinasi Lavia, Caicedo, Havertz, Rice, dan Ødegaard cukup menjanjikan. Pada fase menyerang, mereka akan berusaha membuat pergerakan yang dinamis di lini tengah, entah itu passing atau dribbling secara seimbang, sehingga bisa meningkatkan peluang mencetak skor. Perubahan mencolok ada pada fase bertahan, namun mereka harus berusaha mengurangi kesalahan yang berujung pada gol untuk lawan.


Musim 2022/2023 merupakan musim yang tak terlupakan bagi para fan Arsenal. Bagaimana anak-anak muda di bawah 26 tahun berhasil menyaingi Manchester City yang fantastis dalam perburuan gelar juara Premier League.

Melihat potensi yang dijanjikan para calon gelandang baru, rasanya saya tidak sabar untuk menanti datangnya bulan Agustus. Sekalipun nama-nama yang telah disebutkan memilih untuk berlabuh di klub lain, bursa transfer kali ini masih tetap menarik jika mengingat Arsenal cukup lihai dalam menyembunyikan rencana B mereka dari telinga awak media.

Semoga mulai musim depan, Arsenal menjadi klub yang sangat disegani baik di level domestik maupun level Eropa, sehingga menjadi contoh bagi klub lain untuk menghargai nilai suatu perjalanan dan proses dalam mencapai tujuan.

NB: Anda dapat mengakses kode Python saya di sini.

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑