Pencopotan status tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 yang dilakukan oleh FIFA pada 29 Maret 2023 yang lalu, meninggalkan berbagai macam kesan bagi berbagai kalangan masyarakat Indonesia. Berbagai macam polemik dan spekulasi terkait sanksi FIFA yang akan diterima PSSI bermunculan salah satunya pembekuan aktivitas sepak bola nasional. Ekspresi-ekspresi kekecewaan penikmat sepakbola Indonesia turut mewarnai linimasa sosial media akhir-akhir ini, termasuk dari punggawa Tim Nasional Indonesia U-20 itu sendiri. Salah satu punggawa Garuda Muda bahkan mengungkapkan kekhawatiran terhadap masa depannya karena selama tiga tahun terakhir hanya berfokus pada karir sepakbolanya dan meninggalkan bangku sekolah. Entah janji manis siapa yang telah dia teguk, beberapa penelitian justru menunjukkan bahwa pendidikan memiliki andil yang cukup signifikan dalam karir seorang atlet.
Korelasi pada Kemampuan Individu Atlet Muda
Tak bisa dipungkiri bahwa olahraga beregu seperti sepak bola masih membutuhkan kemampuan kognitif tiap individu. Kemampuan ini berguna karena pesepakbola dituntut untuk dapat mengambil keputusan dalam waktu yang singkat. Tentu saja butuh latihan untuk menguasai kemampuan ini.
Namun latihan di lapangan saja belum cukup untuk mengasah kemampuan kognitif pemain muda. Menurut Christian Urena-Lopera dkk. (2020), atlet yang dengan prestasi akademis yang gemilang, akan lebih sedikit bergantung pada instruksi pelatih, karena atlet mudah menangkap arahan pelatih dan dapat mengembangkan kemampuannya secara individu saat latihan. Selain itu, atlet muda yang terbiasa untuk meningkatkan performa akademisnya cenderung memiliki motivasi ekstrinsik yang tinggi dalam menggapai prestasi di bidang olahraga. Dengan kondisi mental tersebut dan ditambah dengan program latihan yang tepat, tentu akan menjauhkan atlet dari demotivasi apabila mengalami kegagalan, apalagi hingga membuat pernyataan mengejutkan di media sosial.
Penelitian tersebut tidak hanya tertulis di atas kertas namun “dibuktikan” dengan performa pemain kunci Arsenal dan Timnas Inggris, Bukayo Saka. Mark Harvey, salah seorang gurunya di Greenford High School, mengatakan pada Sky Sports bahwa Saka menjadi teladan yang baik bagi siswa karena perilaku dan prestasinya yang baik saat sekolah. Meskipun dia harus untuk melakukan perjalanan dari kediamannya di London Timur ke London Utara untuk mengikuti sesi latihan bersama Arsenal, komitmennya untuk tidak meninggalkan pendidikan formal patut diapresiasi. Tercatat saat ujian GCSE (ujian untuk mendapat ijazah sekolah menegah di Inggris), winger lincah kelahiran tahun 2001 tersebut mendapat empat nilai A* dan tiga nilai A. Mentalnya yang sudah terasah sejak usia sekolah, membuatnya lebih bijak dalam mengatasi kegagalan. Sejak kegagalannya mengeksekusi penalti di final Euro 2020 yang lalu, Saka semakin piawai di sayap kanan The Gunners dan sukses membukukan 12 gol dan 10 asist hingga tulisan ini dibuat.
Memberikan Banyak Opsi Di Luar Sepakbola
Sebagai pekerjaan yang lebih mengandalkan fisik, menjadi pesepakbola tentu tidak bisa dijadikan pegangan utama. Tidak perlu menunggu usia tua, ketika cedera lebih sering menghampiri dibanding prestasi dan kontribusi, di saat itulah klub mulai cari pengganti. Oleh karena itu, mempersiapkan rencana di luar karir sepak bola juga penting dan di sinilah peran pendidikan mulai terasa. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Antonio Carapinheira dkk. dari Portugal (2018) menunjukkan pesepakbola yang memiliki latar belakang pendidikan yang lebih tinggi memiliki lebih banyak pilihan karir setelah pensiun. Fakta tersebut menyadarkan atlet terhadap pentingnya pendidikan, sehingga lambat laun jumlah pesepakbola yang pensiun dengan memiliki gelar sarjana semakin meningkat. Dengan pendidikan yang lebih tinggi, seorang mantan pesepakbola dapat menekuni aktivitas lain di luar kegiatan olahraga, seperti berwirausaha, mengambil studi lanjut, hingga terjun ke dunia politik.
Legenda sepakbola Liberia, George Weah telah merasakan dampak pendidikan tinggi. Gagal dalam pemilihan presiden Liberia di tahun 2005, Weah dikritik masyarakat karena belum menempuh pendidikan tinggi. Kritik tersebut membuatnya bersemangat untuk melanjutkan studi hingga memperoleh gelar sarjana Administrasi Bisnis di DeVry University di tahun 2011 dan gelar master Administrasi Publik di kampus yang sama pada tahun 2013.
Tak hanya dari luar negeri, beberapa pesepakbola tanah air juga pernah mengenyam pendidikan tinggi seperti Yanto Basna dan Boaz Solossa. Yanto Basna meraih gelar sarjana pendidikan di Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY sedangkan mantan kapten Timnas Indonesia Boaz Solossa yang merampungkan S2 di bidang keuangan daerah di Universitas Cenderawasih.
Sepak bola merupakan olahraga populer di Indonesia dan terlihat menyenangkan di mata pemudanya, namun dikelola ala kadarnya oleh mereka yang telah lanjut usia. Hanya mengandalkan teknik olah bola tanpa ditunjang kemampuan berpikir kritis dari sekolah, membuat seorang wonderkid sekalipun sulit untuk berpikir rasional dan bersikap seperti anak-anak (kid) ketika mimpinya pupus.
Oleh karena itu, rasanya aneh sekali jika sepak bola atau bidang olahraga yang sedang ditekuni menjadi alasan untuk meninggalkan bangku sekolah. Jika efek pendidikan formal sulit dirasakan secara langsung, coba tanyakan pada Evan Dimas yang pernah kesulitan berkomunikasi selama di Barcelona karena hanya satu-satunya yang tidak bisa berbahasa Inggris.
Referensi
– Carapinheira, Antonio dkk. (2018). Career Termination of Portuguese Elite Football Players: Comparison between the Last Three Decades. DOI: 10.3390/sports6040155.
– Urena-Lopera, Christian dkk. (2020). Influence of Academic Performance, Level of Play, Sports Success, and Position of Play on the Motivation of the Young Football Player. DOI: 10.3390/ijerph17103374
– Wright, Nick. (2019). Bukayo Saka: Arsenal’s Model Student Has A Bright Future. skysports.com. https://www.skysports.com/football/news/11670/11836850/bukayo-saka-arsenals-model-student-has-a-bright-future/
Leave a comment