Sebelumnya, ijinkan saya untuk menyatakan bahwa tulisan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tidak berada di bawah tekanan dalam bentuk apapun. Saya dapat memahami bahwa ketika satu tim sepak bola yang digemari sedang menderita kekalahan, hal paling manusiawi yang dilakukan oleh penggemarnya adalah menyalahkan satu pemain yang terlihat memiliki kontribusi paling sedikit atau bahkan melakukan sesuatu yang menyebabkan timnya kebobolan. Hal semacam itu menjadi seperti prosedur pengukuran kualitas “layanan” tim sepakbola terhadap penggemarnya. Saat ekspektasi penggemar meninggi, di situlah pemain dituntut untuk bisa mencapainya dan menjadi baik di mata penggemar.
Hal itulah yang terjadi pada diri Jacob Harry Maguire. Seorang bek bertubuh gempal yang performanya tengah disorot dan dicemooh saat berseragam “Setan Merah”. Meme dan potongan klip video tentang aksi konyolnya di lapangan tersebar luas di media sosial. Bahkan, beberapa penggemar menjulukinya “sebagai kulkas “Si Kulkas” karena dia dinilai lamban dalam merespon serangan lawan.

Keanehan terjadi pada saat Maguire mengenakan jersey berlambang tiga singa di dada. Putra daerah Kota Sheffield itu mendadak menjelma menjadi benteng yang kokoh. Sekokoh benteng legendaris yang di baliknya duduk seorang penasehat yang berkata kepada kaisarnya: “Bodoh sekali mereka, Yang Mulia”. Gelaran Piala Dunia 2022 ini, menjadi ajang Maguire unjuk gigi. Selama 2 pertandingan yang baru dilakoninya, Maguire selalu menjadi pilihan utama Southgate di posisi bek sentral kiri. Pada laga melawan Amerika (25/11), Maguire bermain penuh dengan membukukan 8 clearence, 1 tekel, 1 intersep, dan 1 blok. Untuk urusan menyerang, Maguire sering terlibat dalam skenario tendangan sudut karena kemampuan sundulannya. Satu umpan gol sundulan yang terukur dia berikan pada Saka pada laga kontra Iran (21/11).
Mengapa Maguire tampil lebih memukau di timnas dari pada di klub? Sebelum mencapai kesimpulan, saya mengajak Anda untuk melihat gambar berikut:

Skema baku 4-2-3-1 menjadi andalan Southgate pada gelaran Piala Dunia kali ini. Skema ini berubah menjadi 3-4-3 saat menyerang dengan Declan Rice yang akan turun ke lini pertahanan membentuk formasi 3 bek bersama Harry Maguire dan John Stones untuk mengantisipasi serangan Amerika Serikat. Saya merekam data operan pemain Inggris saat melawan Amerika Serikat di babak pertama. Maguire bersama Stones sering melakukan operan pendek untuk memancing pressing Amerika lalu mengirim umpan ke depan.

Southgate paham betul kemampuan dan visi bek berusia 29 tahun tersebut. Maguire memiliki atribut akurasi operan yang cukup tinggi yaitu mencapai 87%. Memang, sepanjang babak pertama Maguire lebih sering menggunakan kemampuan passingnya untuk menarik pressing Amerika atau mengirimkan umpan ke Shaw atau Rice di sayap. Namun, sesekali Maguire dapat melepaskan umpan terobosan akurat kepada Bellingham, Saka, atau Kane di lini depan.
Maguire ingin penggemar MU menurunkan ekspektasi mereka. Bersiaplah kecewa jika berharap Maguire bisa melakukan adu sprint satu lawan satu dengan penyerang lawan. Kecepatan bukanlah atribut utama Maguire. Situasi satu lawan satu sering membuat Maguire kewalahan yang dapat mengakibatkan dirinya membuat pelanggaran atau membuat gawang timnya dibobol. Dia butuh partner yang tepat untuk menutup pergerakan lawan dan merebut bola. Di timnas, peran itu dia mainkan bersama Stones, Rice, dan Shaw.
Selain kawan yang padu, Maguire versi timnas bermain tanpa beban. Hanya rasa bangga dan cinta tanah airnya saat membela panji Tiga Singa. Tak ada lagi banderol 85 juta Poundsterling dan ban kapten yang membelenggu langkahnya. Dia memahami betul pesan terakhir paman dari Peter Parker tersebut bahwa kekuatan yang besar menuntut tanggung jawab yang besar pula.
Pada akhirnya, Maguire adalah satu dari beberapa bek terbaik yang dimiliki Britania Raya. Namun, suasana di tim dapat mempengaruhi kualitas pemain tersebut. Sejak berseragam Setan Merah pada Agustus 2019, Maguire telah merasakan dilatih dengan tiga orang pelatih yang berbeda. Tentu, pelatih satu dengan yang lain memiliki taktik dan visi yang berbeda satu sama lain. Saat tulisan ini dibuat, Manchester United sedang melakukan perubahan besar-besaran bersama Erik Ten Hag. Harry Maguire masih di tahap adaptasi itu. Bukan tidak mungkin, kelak Maguire bisa membuktikan bahwa dia layak menyandang predikat bek termahal di dunia. Jadi, fans MU, mohon bersabar dan meminta maaflah pada Harry Maguire sebab dia tidak seburuk yang kalian pikirkan.
Leave a comment