Perhelatan Piala Dunia 2022 baru saja dimulai. Sebanyak 32 tim nasional bersaing untuk mendapatkan gelar juara dunia. Qatar, sebagai tuan rumah banyak melakukan hal yang “tidak biasa” dilakukan oleh tuan rumah Piala Dunia yang lain, yaitu menciptakan piala dunia yang penuh dengan sopan santun dan tata krama sesuai dengan budaya Qatar. Mulai dari aturan berbusana, pelarangan minuman beralkohol, hingga pelarangan unsur LGBT.
Sopan santun dan tata krama yang ditegakkan oleh pemerintah Qatar juga dilaksanakan oleh tim nasionalnya. Mereka “menyuguhkan” gawangnya pada Enner Valencia, bahkan striker mereka sendiri, Almoez Ali tidak menyentuh gawang lawan. Gawang tersebut sangat lezat, hingga Valencia mencicipi 3 kali nikmatnya menjebol gawang Qatar, namun satu “porsi” gol harus dianulir karena offside.
Di hadapan publik sendiri, Qatar tak berdaya mengembangkan permainan. Almoez Ali benar-benar kehilangan suplai bola. Moisés Caicedo, Jhegson Méndez, dan Pervis Estupiñán menjelma menjadi tiga sekawan yang menakutkan bagi lini depan Qatar. Membangun serangan juga dapat dilakukan ketiganya. Meski kerja sama tim Ekuador tidak bagus-bagus amat, namun usaha mereka mampu membuat Enner Valencia dengan leluasa mengobrak-abrik pertahanan Qatar. Dua gol dicetaknya di babak pertama.
Qatar sebenarnya sudah berusaha. Babak kedua menjadi lebih hidup dengan adanya jual beli serangan. Namun sayang, tidak ada peluang yang dapat dikonversi menjadi gol. Skor 0-2 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan dan tim tamu membawa pulang 3 poin di laga perdananya.
Kurangnya kreativitas di lini tengah menjadi masalah utama bagi Qatar. Kurangnya koordinasi dan komunikasi antar pemain saat melakukan serangan balik juga harus segera dibenahi. Namun di balik redupnya performa Qatar, ada satu bintang muda yang berusaha keras untuk bersinar. Bintang itu bernama Akram Afif.

Posisi aslinya adalah sayap kiri. Namun, di pertandingan itu, dia sering mengisi pos nomor 6 dan 8 untuk membantu membangun serangan maupun menghadang serangan dari pemain Ekuador. Usahanya banyak dilakukan untuk menahan serangan Ekuador. Alhasil untuk aspek menyerang, dia hanya membukukan satu tembakan ke arah gawang dan satu operan kunci di laga tersebut.

Pada babak pertama, pertahanan Qatar memang butuh pertolongan sehingga Afif lebih terlihat mengisi pos gelandang bertahan. Sedangkan pada babak kedua, Qatar menemukan ritme permainannya sehingga Afif mampu menjadi penyerang sayap kembali meskipun sesekali turun ke area pertahanan.
Afif mampu memainkan peran sebagai gelandang bertahan, gelandang serang, maupun penyerang sayap sekaligus. Hal yang mengingatkan saya pada peran Granit Xhaka di Arsenal. Beberapa kali dia terlibat dalam perebutan bola dengan Moisés Caicedo, Jhegson Méndez, bahkan dengan Enner Valencia. Lini serang Ekuador benar-benar merepotkan sehingga dia terpaksa melakukan pelanggaran di menit 78 dan berbuah kartu kuning.
Akram Afif dkk setidaknya sudah mencoba. Piala Dunia merupakan pentas perdana mereka di kancah dunia. Meskipun mayoritas punggawa timnas Qatar berasal dari klub yang sama, namun pundak mereka yang memanggul seluruh Qatar memperberat langkah laju kaki mereka saat menggiring bola. Semoga pertandingan pembuka tersebut membuat anak asuh Félix Sánchez Bas mampu berbenah dan mampu berbicara banyak saat melawan Senegal dan Belanda nanti.
Leave a comment