Trio of Deep Sin (2022): Film Tokusatsu Rasa Drama

Seorang pemuda ingin mengisi waktu luang di tengah siang yang cerah, sehari setelah dua ikan hias peliharaannya mati. Tiba-tiba dia teringat akan satu film yang beberapa hari yang lalu dia tonton. Lalu, lahirlah tulisan ini.


Pernahkah Anda terpikir apa dampak yang terjadi pada masyarakat yang tinggal di daerah tempat pahlawan super melakukan pertarungan? Ketika pertarungan terjadi, fokus cerita ada pada ksatria yang saling bertarung dengan segala jurus pamungkasnya. Namun ketika jurus pamungkas tersebut mengeluarkan efek yang dahsyat, misal es, api, ataupun listrik, tidak hanya musuh yang binasa namun orang lain di sekitar pertarungan tersebut yang terkena imbasnya.

Kehidupan Baru Para Ksatria

Cerita ini berlatar 8 tahun setelah pertarungan terakhir ksatria Sword of Logos melawan Storius. Tokoh-tokoh pada Kamen Rider Saber dibuat agar terlihat dewasa dan beberapa di antaranya diceritakan menjalani kehidupan baru. Fukamiya Kento digambarkan sebagai seorang translator buku dan tinggal bersama tunangannya, Yuina Tachibana. Bapak kura-kura besi Oogami Ryu tampil sebagai guru sekolah dasar. Sementara Kamiyama Touma mengadopsi seorang anak berusia 11 tahun yang bernama Riku. Touma sendiri tetap menulis dan menjalankan toko buku Fantastis Kamiyama namun dengan lokasi baru yang berada di tengah kota. Toko lama Touma terbakar 8 tahun yang silam dan peristiwa itulah yang menjadi awal mula Touma mengadopsi Riku.

Toko baru Touma tersebut dibangun atas bantuan Mamiya, kawan masa kecil Touma dan Kento. Mamiya digambarkan sebagai sosok yang baik namun juga tegas dan sering memarahi Touma karena kebandelannya di masa lalu.

Konflik mulai muncul saat Touma, Rintaro, dan Kento bertemu dengan Falchion putih yang memegang Pedang Hampa (Mumeiken Kyoumu) di waktu yang terpisah. Keberadaan Falchion putih ini ingin menghapus keberadaan para ksatria Sword of Logos karena pertarungan mereka menghancurkan sesuatu yang berharga bagi para Falchion putih ini.

Nuansa Drama yang Kental

Film yang berdurasi kurang lebih 72 menit ini menyuguhkan drama yang membawa makna yang mendalam. Di awal film, penonton diajak untuk mendalami karakter di Kamen Rider Saber yang mulai menjalani rutinitas harian yang baru. Selama 20 menit tidak ada kamen rider yang muncul dan Touma, Kento, serta Rintaro melakukan henshin setelah menit 40-an. Trio of Deep Sin ini sungguh film tokusatsu yang unik. Ketiga tokoh utama Kamen Rider Saber tersebut dipisahkan dalam cerita kesehariannya mereka masing-masing dan menghadapi masalah mereka yang berbeda, sehingga film ini terkesan memiliki tiga alur cerita. Selain itu, tokoh-tokoh antagonisnya digambarkan memiliki kedekatan emosional masing-masing dengan Touma, Kento, dan Rintaro.

Tokoh-tokoh yang menjadi Kamen Rider Falchion putih memiliki dasar emosional untuk menyerang dan menghapus keberadaan ksatria Sword of Logos. Sebagai contoh, Yuina Tachibana berpura-pura mencintai Kento untuk bisa membalaskan dendam 8 tahun silam, ,ketika pertarungan Kento secara tidak langsung membunuh tunangan Yuina.

Peneguhan Tekad Bertarung

Para ksatria Sword of Logos dihadapkan pada permasalahan yang kompleks. Tugas mereka melindungi dunia dari serangan Megido, namun acap kali mereka tidak bisa melindungi lingkungan sekitar mereka yang menjadi korban tidak langsung pertarungan itu. Ketiga pertarungan yang terjadi berjalan cukup sengit karena para ksatria sempat ragu karena berhadapan dengan sisi emosional mereka.

Meski berlangsung tidak lama, adegan pertarungan justru memainkan peranan penting dalam film ini. Berakhirnya pertarungan mereka bertiga menandakan keteguhan tekad bertarung meskipun harus mengorbankan kepentingan pribadi mereka, seperti yang diucapkan oleh Rintaro:

Aku akan terus menggunakan pedangku sambil memikul seluruh beban penderitaan mereka.

Shindo Rintaro

Pertarungan tersebut pada akhirnya mengembalikan ingatan tentang ksatria Sword of Logos. Akhir dari pertarungan tersebut menulis ulang kisah para tokoh antagonis pada lembaran hidup yang baru.


Film Trio of Deep Sin ini membuktikan bahwa film tokusatsu dapat mengandung makna yang mendalam. Dibalik tujuan baik yang kita emban, pasti ada yang tidak menyukai karena hal tersebut dinilai merugikan mereka. Bagaimanapun juga, tujuan baik harus dilakukan dengan tindakan baik agar dapat dipertanggungjawabkan.

Selain itu, Trio of Deep Sin juga membuktikan bahwa genre tokusatsu tidak hanya dinikmati sebagai hiburan anak-anak belaka, karena dengan beratnya konsep cerita pada film ini, mustahil jika anak-anak dapat menikmati film ini tanpa didampingi orang dewasa. Jadi, jika ada kolega Anda yang bersikeras menganggap film tokusatsu adalah film anak-anak, silakan Anda ajak untuk menonton film ini :)).

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑