Pagi itu, langit begitu cerah. Para remaja tanggung berseragam putih biru dongker mulai memasuki ruang kelas. Saat itu, liburan kenaikan kelas baru berakhir. Wajah ceria menghiasi sebagian besar siswa yang lama tak bersua kawan-kawan mereka.
Di bagian pojok salah satu kelas, sekumpulan remaja lelaki berkumpul. Berdebat sangat seru seperti membicarakan masalah negara jika terlihat dari jauh. Ketika kau dekati, terdengar jelas obrolan mereka bak sekumpulan perwakilan suporter bola yang membela klub kesayangannya. Kudekati mereka dan menyimak dengan penuh takzim apa yang mereka ucapkan.
“Hei, kalo kamu dukung siapa?” tanya salah seorang dari mereka.
“Arsenal.” kataku sekenanya.Sejatinya, aku tidak mengikuti pertandingan liga domestik. Aku lebih suka menonton gelaran akbar seperti Euro dan Piala Dunia. Namun, aku tahu klub sepak bola Inggris yang terbilang besar seperti MU, Liverpool, Chelsea, dan Arsenal. Tapi, entah mengapa Arsenal yang keluar dari mulutku.
“Ha! Mustahil.” Beberapa dari mereka bahkan menahan tawa.
“Musim ini pasti puasa gelar lagi!”
Melihat ekspresi mereka, aku pun jadi heran. Rasanya, Arsenal itu klub besar dan juga menghasilkan banyak pemain bintang. Rasa ingin tahuku membawaku untuk mulai menghabiskan setiap malam mingguku dengan menonton Liga Inggris.
Arsenal mengawali musim itu dengan tertatih-tatih. Aku dan seorang temanku yang juga seorang Gooner (sebutan untuk fans Arsenal) lebih sering diam dari pada mendebat. Maklum, tiga pertandingan beruntun belum pernah menang. Bahkan, di minggu ketiga MU menjadi tuan rumah yang kejam bagi Arsenal. Mencukur serampangan dengan skor 8-2 membuatku tak semangat memasuki kelas di hari berikutnya.
Setiap kali hasil buruk menimpa, setiap itu juga aku hanya bisa berdalih bahwa Arsenal di musim itu banyak ditinggalkan pemain bintangnya. Sebut saja Cesc Fabregas, Samir Nasri, dan Clichy. Ditinggalkan sang kapten mengadu nasib ke Barcelona membuat Robin Van Persie langsung naik pangkat menjadi kapten tim sekaligus “menggendong” seluruh tim ke peringkat tiga musim itu dengan 30 golnya.
Aku mulai menjadi Gooner yang tabah. Melihat klub rival mengangkat trofi tidak lagi menjadi beban di hati. Toh, aku mulai menemukan kepuasan tersendiri saat menonton Arsenal. Melihat cara mereka membangun permainan. Melihat cara mereka menyerang. Melihat mereka enggan bermain bertahan meskipun melawan tim yang lebih tangguh. Ketabahan ini terbayar saat aku duduk di bangku SMA menyaksikan trofi piala FA diangkat untuk memuaskan dahaga gelar menahun. Pelan tapi pasti, tim berlogo meriam ini pasti akan menjadi tim yang kembali disegani.
Sepeninggal Arsene Wenger yang mulai mundur dari kursi kepelatihan, pondasi tim mulai goyah. Di saat inilah makna kesetiaan dipertegas. Naik turun performa dilalui hingga mantan kapten datang membawa secercah harapan, membangun tim dari dasarnya, memimpin sepasukan pemain muda belia yang siap bekerja.
Ya, jalan menuju gudang meriam itu tidaklah mulus, banyak bekas peperangan yang telah dilalui. Memasuki gudang meriamnya pun terkadang kita hanya menemukan meriam lapuk peluru-peluru baru yang entah kapan siap diledakkan. Namun, di tangan yang tepat, senjata pusaka itu bisa digunakan merebut kemenangan. Ya, suatu saat nanti.
Jalan Menuju Gudang Meriam
Leave a comment